Just another WordPress.com site

Archive for the ‘Kisah Orang Sukses’ Category

>Penemu Game Pertama Kali

>

Ralph H. Baer, terlahir 8 Maret 1922, seorang Jerman yang tinggal di Amerika sejak kecil. Menjadi seorang insinyur televisi yang saat itu masih jarang, Ralph menciptakan sebuah permainan di televisi yang saat itu sedang ia kerjakan sekitar tahun 1966, di perusahaan bernama Sanders.

Penemuan ini dikembangkan hingga menjadi protoip konsol game pertama yang dinamakan Brown Box, dan dipatenkan pada tahun 1968. Paten ini telah mendapatkan banyak ujian yang hingga kini masih tercatat benar sebagai video games pertama. Paten ini dilisensi oleh Magnavox Oddysey yang menjadikan dia sebagai game konsol pertama di dunia pada tahun 1972.
Tidak lama Baer juga menemukan kontrol pistol untuk video games yang bisa dimainkan di televisi, juga merupakan yang pertama di dunia, digunakan di Magnavox Oddysey.
Ralph Baer tetap bekerja di Sanders hingga pensiun pada 1987. Sejak 1983, Baer bersama kawannya menciptakan beberapa peralatan permainan di bawah nama MicroPROS Technology Solutions. Baer juga merupakan anggota senior seumur hidup dari perkumpulan insinyur IEEE.
Atas kontribusinya terhadap perkembangan dunia dan teknologi, Ralph Baer mendapatkan National Medal of Technology dari George Bush pada 13 Februari 2006, atas penemuannya yang memulai era industri video game.

Iklan

>Ini Dia Lukisan Anak Umur 7 Tahun Yang Laku 273 Juta

>

Seni tidak memandang umur, karena seni sudah ada ketika manusia dilahirkan. Buktinya seorang bocah 7 tahun dari Inggris, mampu menjual 16 karya lukisannya seharga 18 ribu poundsterling atau sekira Rp273 juta (Rp15,176 per pound) dalam waktu 14 menit.
Berikut berita lengkapnya, yang saya ambil dari okezone :

INGGRIS – Bocah berusia tujuh tahun dianggap sebagai jenius baru di bidang seni lukis. Pasalnya, dia dikabarkan berhasil menjual 16 karya lukisannya seharga 18 ribu poundsterling atau sekira Rp273 juta (Rp15,176 per pound) dalam waktu 14 menit.
Adalah Kieron Williamson, bocah yang berdomisili di kota Holt, selatan wilayah Inggris, bersyukur diberikan bakat seni lukis yang mumpuni. Bakat seni lukisnya ini membuat iri banyak orang, bahkan dirinya disamakan dengan pelukis ternama dunia Pablo Picasso.
Terinspirasi dari wilayah lanskap Norfolk, wilayah pantai timur Inggris, lukisan Kieron yang menggunakan crayon, cat air dan cat minyak, menunjukkan kedewasaan yang melebihi umurnya sendiri. Lukisannya sendiri ini bahkan dihargai 1,500 poundsterling atau sekira Rp22,5 juta per buah.
Awal mula Kieron mencoba untuk melukis sendiri terjadi tanpa kesengajaan. Saat usianya 5 tahun, bocah laki-laki tersebut berlibur dengan keluarganya ke Cornwall, Inggris. Melihat pemandangan dermaga, Kieron minta pada orangtuanya untuk dibelikan buku sketsa. Sejak saat itu Kieron seperti tersihir dengan dunia lukis.
Meski aktif melukis, orangtua Kieron tidak mampu mendesak anaknya. Kieron hanya mau melukis saat dia sedang ingin melukis. Keluarganya bahkan membatasi karya lukisan yang akan dijual, hingga pembeli dari seluruh dunia mengantre untuk memiliki karya bocah ajaib tersebut.
Ayah Kieron menyatakan, jika penjualan karya anaknya pada November lalu merupakan sebuah peristiwa fenomenal. Penjualan tersebut bahkan mengundang pembeli dari Jepang. Sementara bunyi telepon tidak berhenti bersuara menawar karya anaknya. Pembeli juga banyak yang datang langsung ke rumah Kieron.
Akhirnya Ayah Kieron bersedia menjual karyanya dan dalam waktu hanya 14 menit, 16 karya lukis Kieron berhasil terjual. Kini dengan uang Rp273 juta tentunya dapat mendorong Kieron untuk terus berkarya dan menciptakan lukisan yang membuat kagum banyak orang.

>RUDY JONCER : Mengubah Hama Dan Limbah Jadi Dollar

>

Dalam bisnis diperlukan kejelian dalam melihat peluang. Begitulah pengalaman sukses Rudy Joncer (59). Bayangkan, dari tangannya, hama bisa menjadi dolar dan dari limbah pun dia bisa mengeruk keuntungan. Pemilik PT Sari Keong Nusantara itu berhasil mengekspor bekicot ke sejumlah negara. Sekitar 55% produk sari kelapanya juga telah diserap pasar luar negeri. Padahal, dua produk dengan brand Wong Coco itu dianggap masyarakat sebagai hama dan limbah. Tamatan SMA itu memulai bisnis sebagai pedagang barang-barang porselen. Bahkan sempat menjadi agen gelas-gelas Kedaung. Tapi tawaran kerja sama dari rekannya asal Taiwan kemudian menggeser nasib Rudy ke tangga yang lebih tinggi. Belakangan, dia juga melirik bisnis sarang burung walet dengan brand yang sama. Untuk mengukuhkan bisnis barunya itu, dia mendirikan restoran Istana Walet Wong Coco di Gajah Mada Plaza. Tujuannya untuk mempercepat kemajuan bisnis walet dan menjadikan restoran itu sebagai alat promosi kepada konsumen. Berikut pemaparan Rudy Joncer seputar perjalanan menggeluti bisnis kepada Rofian Akbar dan Tajwini Jahari dari Majalah MARKETING.


Bagaimana mulanya Anda bisa terjun dalam bisnis keong (bekicot)?

Jadi begini, saya awalnya dulu itu pedagang barang-barang porselen dan pernah jadi agen gelas-gelas Kedaung. Kira-kira di tahun 1983¡V1984, saya ketemu teman orang Taiwan. Waktu itu dia tanya, Di Indonesia ada bekicot enggak sih? Saya bilang, banyak sekali. Kata teman saya lagi, Itu kan bisa jadi duit. Taiwan memang pasar bekicot yang sangat bagus. Sebelum tahun 1980, populasi bekicot di Taiwan itu masih banyak. Baru sesudah 80-an, terutama tahun 1983-1984, bekicot mulai punah karena pertanian di sana maju. Tawaran teman saya untuk kerja bareng (menggarap bekicot) itu saya jawab oke saja. Jadi, waktu itu kami mulai persiapan, dan tahun 1985 mulai jalan pabriknya dengan nama PT Keong Nusantara Abadi.

Dulu hanya menggarap pasar ekspor?

Ya. Karena di Indonesia ini kan mayoritas muslim. Dan sampai sekarang saja, di kaum muslim sendiri masih ada dua kubu tentang bekicot. Kubu yang satu beranggapan bekicot itu tidak ada masalah. Contohnya di daerah Jawa Timur, terutama di Kediri, bekicot itu sudah memasyarakat. Banyak yang dibuat sate atau keripik bekicot.
Tapi, di kubu lain, ada sebagian kecil yang masih menolaknya alias haram.
Sampai saat ini, untuk pasar lokal kami hanya memasarkannya di Sogo Department Store. Kami pernah memasarkan di Hero, tetapi kurang begitu laku. Di Sogo pun satu bulan paling banter lakunya hanya dua karton. Sangat kecil sekali.

Kenapa kecil sekali, apa karena alasan halal-haram itu?

Saya rasa enggak juga. Waktu dulu di kampung, kita kan semua tahu bahwa bekicot itu sangat jijik sekali. Nah karena jijik itu, banyak juga yang nolak. Jadi yang menolak bekicot itu bukan hanya soal agama saja tetapi juga jijiknya itu. Padahal kalau mau tahu, bekicot itu proteinnya tinggi sekali. Di Perancis tempat asal bekicot dijadikan ladang bisnis bentuk batoknya lain dengan yang ada di Asia. Di sana batoknya agak kecil, rapih seperti seafood. Namanya di sana adalah escagot. Sedangkan bentuk bekicot di Asia (Indonesia, Malaysia, Taiwan dan RRC) ini agak panjang dan namanya snail. Keduanya mempunyai kandungan protein dan gizi yang sama.

Proporsi pasar lokal dengan pasar ekspor bagaimana?

Persentasenya saya kira enggak ada 1%. Masih nol koma-lah. Potensi ke depan bekicot di pasar lokal bagaimana? Susah ya, karena mungkin berkait dengan tradisi. Contoh di Cina, di provinsi Hokian dan Hainan. Mereka sampai sekarang tidak bisa terima bekicot. Berbeda dengan Taiwan yang begitu laku karena sudah terbiasa mengkonsumsi bekicot. Saya rasa memang suatu bangsa atau suku, untuk bisa menerima suatu makanan yang baru memerlukan proses dan edukasi yang panjang.

Berapa banyak ekspor Anda per bulan ke Taiwan?

Saya bisa ekspor bekicot ke Taiwan tiap bulannya hampir 4 kontainer (bekicot yang digaramkan, dikeringkan atau yang dibekukan).
Selain ke Taiwan, ekspor kemana lagi?
Kami juga ekspor ke Amerika dan Kanada. Dua negara itu yang terbesar. Selain itu juga ke Jepang. Pemain bekicot di Indonesia selain Anda? Dulu di Medan ada, tetapi sekarang sudah tutup. Sekarang pemainnya tinggal saya dan yang kecil-kecil (enggak khusus).

Anda punya lahan budidaya bekicot sendiri?

Sampai saat ini belum. Kenapa? Bekicot itu kalau dibeli dari petani, per kilonya sekitar Rp2.000. Tetapi kalau budidaya, kita pernah hitung paling tidak cost-nya mencapai Rp5.000 sampai Rp6.000. Jadi belum perlulah budidaya. Apalagi supply-nya masih ¡§over¡¨.

Anda juga ekspansi ke sari kelapa. Kenapa?

Bisnis sari kelapa saya mulai tahun 1994. Saya melihat pengusaha itu seperti orang berenang di kali. Kalau kita berenang di kali dan tidak naik, maka akan terbawa arus. Jadi begitu pula saya, harus ekspansi terus. Kenapa? Karena saya juga harus menjamin manajer-manajer saya termasuk juga seluruh karyawan saya. Mereka kan ingin suatu kemajuan. Misalnya mereka sudah ikut saya 5 tahun atau 10 tahun, mereka kan otomatis punya kebutuhan juga untuk naik terus, seperti gaji harus naik, anak harus sekolah dan sebagainya. Nah dari situ, bagaimana saya dapat menjamin mereka semua? Itulah, mau tidak mau, kami harus ekspansi dalam bisnis. Itu memang dituntut.

Dalam melakukan ekspansi, apa yang Anda cermati?

Yang saya cermati dan pikirkan adalah yang punya potensi jangka panjang dan enggak tersaingi. Contoh yang parah seperti sekarang di Indonesia, untuk sepatu dan garmen, kita kalah dengan RRC. Makanya dari jauh-jauh hari saya enggak mau melakukan ekspansi bisnis yang gampang disaingi oleh yang lain. Saya lihat peluang
bisnis di sari kelapa. Kami pernah hitung, di Lampung tiap hari air kelapa sekitar 200 ribu liter. Sedangkan saya sekarang baru memakai sekitar 20¡V30 ribu liter. Masih cukup banyak kan? Di Lampung, kopra memang luar biasa, apalagi di tempat yang lain. Padahal ini terbilang limbah. Menangkap peluang bisnis itu kan enggak mudah.

Ketika Anda melihat sari kelapa, apakah terbayang pasarnya akan besar?

Untuk bisnis sari kelapa, waktu itu (sekitar 20 tahun yang lalu) memang Jepang duluan populer. Dan 10 tahun yang lalu, sebelum saya produksi, di Jepang sudah mulai menurun. Makanya, tahun 1994 saya melihat peluang di sari kelapa. Apalagi di Taiwan sekarang ini, bagi yang muda-muda, sari kelapa mulai dijadikan makanan (dijadikan sayur). Di Cina, saya melihat ini juga punya pasar yang cukup baik. Makanya, kami juga melirik pasar sana. Jadi memang saya melihat pasar sari kelapa itu di Indonesia dan di luar cukup besar. Untuk pasar Jepang saja, contohnya, rata-rata tiap bulan saya mengekspor sari kelapa sekitar 8 kontainer.

Sekarang berapa jumlah varian produk dari Keong Nusantara?

Wah, banyak sekali. Mungkin ada ratusan. Jenis yang paling gede sekali adalah bekicot, lalu sari kelapa, lidah buaya, jelly, nanas, es bonbon, sirsak, dan cincau.

Semua memakai brand Wong Coco?

Ya. Jadi boleh dibilang Wong Coco adalah umbrella brand. Untuk bekicot di pasar luar kita juga ¡§maklon¡¨-kan. Semua produk Wong Coco konsepnya adalah healthy food.
Sejak kapan mengunakan nama Wong Coco?
Sejak masuk ke Sari Kelapa, yakni tahun 1994. Dulu memang di Lampung itu ada sari kelapa yang terkenal, namanya Nata De Coco. Nah, dari ngobrol-ngobrol cari nama dengan teman sambil bertukar pikiran, muncul nama Wong Coco. Dan kami pikir nama itu sangat gampang diingat.

Orang kenal Wong Coco lebih kepada sari kelapa ketimbang produk yang lain?

Ya. Karena kami memang pertama di Indonesia untuk sari kelapa dengan kemasan kaleng¡Xsejak tahun 1994. Saya dapat ide itu dari minuman kaleng cincau (berbentuk butir-butir) yang cukup sukses dan disenangi orang Taiwan. Dari situ saya punya gagasan, kenapa sari kelapa enggak dihancurin jadi minuman seperti minuman cincau. Kemudian saya coba dan ternyata responnya luar biasa, langsung sukses.

Di sari kelapa, apakah Wong Coco jadi leader?

Ya. Dan sampai saat ini untuk bekicot dan sari kelapa, bicara kuantitas maupun kualitas, kami nomor satu di dunia. Dalam sehari, saya produksi sari kelapa saja hampir 20 ton. Untuk ekspor sekitar 55%, sedangkan lokal 45%. Hampir berimbanglah.

Anda juga buka restoran dengan nama Istana Walet Wong Coco?

Kami memang membonceng dulu nama Wong Coco yang sudah punya nama dan cukup kuat brand-nya di Indonesia. Dan sampai saat ini untuk bisnis sarang burung walet di luar memang masih lebih kuat, terutama di Taiwan dan Hongkong. Mereka benar-benar banyak duit dan rata-rata sudah agak merata.

Kapan Anda mulai melirik bisnis sarang burung walet ini?

Sejak 2¡V3 tahun yang lalu saya mulai merintis. Di Lampung, kami punya tempat pengolahan limbah yang luasnya hampir 6 hektar dan di tempat itu kami termasuk yang terbaik. Di musim kemarau banyak walet yang ngumpul di sana karena banyak makanannya.
Suatu ketika teman saya yang punya peternakan walet datang dan bilang sama saya, ¡§Alangkah sayangnya kamu kalau enggak buat rumah.¡¨ Tetapi waktu itu saya kurang interest karena memang bukan bidang saya. Apalagi ada mitos kalau punya walet itu, nanti punya keturunan yang tidak baik dan sebagainya. Nah, baru 2-3 tahun yang lalu saya mulai berpikir kembali, ini adalah sebuah peluang yang bagus sekali. Saya juga melihat bahwa di negara-negara tetangga kita seperti Singapura, Hongkong dan Taiwan punya brand sendiri untuk sarang burung walet. Di Indonesia sendiri belum ada brand sarang burung walet, padahal yang punya walet sekitar 80%. Pendirian restoran Istana Walet ini sejak kapan? Istana walet ini baru 3 bulan. Konsepnya walet plus restoran. Jadi begini, kami kan mau membangun suatu brand sarang burung walet. Nah, kalau enggak gini (menggunakan restoran), kapan brand itu akan terbangun. Kayak Singapura dan Hongkong, mereka sejarahnya di walet sudah 10¡V20 tahun lalu. Saya ingin melampaui mereka. Kalau saya enggak mendirikan restoran kayak begini, kapan saya bisa melampaui mereka? Apa saya harus mengikuti cara-cara orang tua dulu seperti bikin warung atau toko kecil yang jual walet. Enggak begitu kan? Makanya, mau enggak mau, saya bikin istana walet ini (untuk media komunikasi konsumen).

Ada rencana buka di tempat lain?

Ada, bulan Juni nanti kami berencana akan buka Istana Walet di Hongkong. Kami juga bakal buka di Bali, terus di Jakarta juga akan buka lagi. Kami sudah menjajaki untuk buka di terminal keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta.

Bagaimana bentuk komunikasi dan promosinya?

Kami kan baru 3 bulan. Selain pasang iklan di koran-koran berbahasa Mandarin, kami juga menempuh banyak jalur. Kami menjalin kerja sama dengan semua travel agent. Di samping itu, kami mengadakan tour di Hongkong, Singapore, Taiwan, China untuk mengedukasi dan memperkenalkan Istana Walet ini.

Apa filosofi Anda dalam berbisnis?

Saya ini dari kecil jiwanya enggak bisa diam. Saya kadang-kadang berpikir, kenapa kita yang di Indonesia kalau dibandingkan dengan Hongkong, Cina atau Taiwan selalu kurang bisa bersaing. Saya selalu berprinsip, untuk bisa bersaing dengan mereka, kita harus lihai. Apalagi di era AFTA nanti, kita tidak hanya bersaing di dalam negeri saja tetapi juga di luar negeri.

Untuk menjadi pebisnis sukses, apa kiatnya?

Saya rasa sih yang terpenting adalah kemauan yang keras dan bisa membaca situasi.
Obsesi Anda selanjutnya?
Cita-cita saya, kalau bisa mensukseskan walet ini, sudah sangat luar biasa. Maklum ini kan terbilang baru di Indonesia. Berbeda dengan di Hongkong yang banyak sekali merek sarang burung waletnya. „M

Awan Tag